REPRESENTASI MASKULINITAS DALAM MUSEUM IBU (MASCULINITY REPRESENTATION ON MUSEUM IBU)

Resti Nurfaidah

Abstract


Museum Ibu merupakan buku kumpulan cerpen karya Gusti Trisno yang terdiri atas beberapa etalase penggambaran sosok perempuan dewasa dalam kedudukan yang berbeda dari sudut pandang maskulin (male gaze). Penelusuran tentang sosok ibu tersebut dilakukan dengan cara pandang culture studies dengan menggunakan beberapa konsep gender, terutama maskulinitas dari Beynon dan beberapa pakar lain untuk menelaah bagaimana aspek gender berperanan penting dalam kehidupan tokoh maskulin yang membakukan pandangan bawah sadarnya pada sosok perempuan dewasa di sekitarnya.  Analisis tentang konflik gender dilakukan pada data-data metaforis pada sumber data secara konseptual khas Lakoff dan Johnson. Metode penelitian yang digunakan di dalam makalah ini adalah analisis deskriptif melalui tahapan kepustakaan dan wawancara dengan penulis. Kesimpulan sementara dari penelitian ini adalah tokoh aku dan tokoh maskulin yang terdapat dalam sumber data tersebut merupakan representasi laki-laki oidipal yang sangat bergantung pada lindungan dan kehadiran perempuan-perempuan dewasa di sekitarnya untuk menutupi kelemahan maskulinitas yang ada dalam dirinya.

Museum Ibu was an antology of  Gusti Trisno’s short stories. It consisted of few showcases of adult female representations on different spots from male gaze of I (male) or other male characters. This paper was written to explore adult female representations from male gaze. The purpose  was to reveal the representation of adult female characters, both as mothers or alternative mothers, based on male gaze of I or other male characters. The exploration was based on culture studies that used many concept: Freud’s oedipal, Beynon masculinity, Lakoff and Johnson’s  metaphoric. Method which was used: comparative descriptive analysis towards metaphorical data on Museum Ibu. The result revealed that I and other male characters found on the data were representation of oedipal men. They had highly dependence to the surroundings adult female charactershiding from their lack of  parts of their own masculinity.


Keywords


gender; maskulinitas; kebutuhan; perempuan dewasa

Full Text:

PDF

References


Connell, R.W. (2005). Masculinities.Cambridge: Polity Press.

Hall, Calvin S. 1995. Freud: Seks, Obsesi, Trauma, dan Katarsis. Jakarta: Delapratasa.

Hasyim, Nur. 2010. “Gerakan Laki-Laki Pro-Perempuan: Transformasi Dua Sisi” dalam Jurnal Perempuan Edisi 64. Jakarta: YJP.

Kurniawan, Aditya Putra. 2010. “Dinamika Maskulinitas Laki-Laki” dalam Jurnal Perempuan Edisi 64. Jakarta: YJP.

Lakoff, George, dan Johnsen, Mark. 2003. Metaphors We Live. Chicago: The University of Chicago Press.

Minderop, Albertine. 2010. Psikologi Sastra: Karya Sastra, Metode, Teori, dan Contoh Kasus. Jakarta: Pustaka Obor.

Padijaya, Rufiah. 2010. “Feminis Laki-Laki adalah Keniscayaan untuk Menghapus Diskriminasi terhadap Perempuan. Catatan dari Seminar “Partisipasi Laki-Laki Menghapus Diskriminasi Perempuan” dalam Jurnal Perempuan Edisi 64. Jakarta: YJP.

Rakhmadi, Galih. 2010. “Seksualitas Laki-Laki dalam Novel “Vita Seksualis” Karya Mori Ogai”. Skripsi. Depok: FIB UI.

Rene, Wellek, dan Austin, Warren. 1989. Teori Kesusastraan (edisi terjemahan). Jakarta: Gramedia.

Rutherford, Jonathan. 2014. “Siapakah Laki-Laki Itu” dalam Rutherford, Jonathan, et.al. 2014. Male Order: Menguak Maskulinitas. Yogyakarta: Jalasutra.

Subiantoro, Eko Bambang. 2010. “Laki-Laki Baru Mendobrak Tabu” dalam Jurnal Perempuan Edisi 64. Jakarta: YJP.

Subono, Nur Iman. 2010. “Lelaki sebagai Mitra dalam Menghapuskan Kekerasan terhadap Perempuan” dalam Jurnal Perempuan Edisi 64. Jakarta: YJP.

Suryakusuma, Julia. 2011. Ibuisme Negara: Konstruksi sosial Keperempuanan Orde Baru. Depok: Komunitas Bambu.

Trisno, Gusti. 2017. Museum Ibu. Kepanjen: Banurejo.




DOI: https://doi.org/10.26499/wdprw.v46i2.170

Refbacks

  • There are currently no refbacks.