TITAH BAGINDA VERSUS HAK PUTRA MAHKOTA DALAM BABAD NITIK SARTA CABOLEK KANTENG SINUWUN SULTAN AGUNG ING MATARAM

Slamet Riyadi

Abstract


Babad Nitik sarta Cabolek Kangjeng Sinuwun Sultan Agung ing Mataram (BNSA) merupakan suatu versi yang berbeda dengan babad-babad yang lain. Perbedaan yang mendasar terletak pada pernyataan bahwa Sultan Agung (dengan nama kecil Rangsang) bukanlah putra Anyakrawati (raja Mataram II) seperti yang telah beredar selama ini, melainkan putra Panembahan Senapati dengan permaisuri keduanya, Ratu Retna Dumilah, atau merupakan adik Anyakrawati lain ibu. Berkenaan dengan kemenangan Retna Dumilah dalam sayembara menggulingkan kursi singgasana, Rangsang ditetapkan oleh ayahandanya sebagai putra yang dapat menurunkan raja-raja di tanah Jawa. Penetapan itu menimbulkan kekhawatiran Anyakrawati bahwa Rangsang nanti akan menggangu dan merongrong kewibawaannya dalam mengendalikan pemerintahan. Oleh karena itu, Anyakrawati memerintahkan untuk membunuhnya. Namun, usaha itu dapat digagalkan oleh Purubaya, kakaknya, yang selalu melindungi atas pesan ayahandanya. Bahkan, dalam usaha pembunuhan yang ketiga kalinya, Anyakrawati tewas dalam perburuan untuk menangkapnya. Akhirnya, Rangsangyang telah menyandang putra mahkota dengan gelar Arya Manggaladinobatkan menjadi raja Mataram III dengan gelar Sultan Agung Anyakrakusuma. Dalam kaitannya dengan pembahasan BNSA, teori struktural Wellek dan Warren yang dikembangkan, antara lain, oleh Teeuw dipakai sebagai sarananya. Dikemukakan oleh Teeuw, antara lain, bahwa penciptaan karya sastra dari waktu ke waktu mengalami perkembangan yang selalu berada dalam ketegangan antara konvensi dan inovasi. Sehubungan dengan pengumpulan data digunakan metode deskriptif-kualitatif dengan teknik simak dan catat, sedangkan analisisnya digunakan teknik analitik. Sementara itu, sumber datanya adalah BNSA tersebut di atas, dibantu dengan data kekunder: Babad Tanah Jawi Kartapadja.

Babad Nitik sarta Cabolek Kangjeng Sinuwun Sultan Agung ing Mataram (BNSA) was a one of the version of babads. Basic differences lied on the statement that Sultan Agung (with child name Rangsang) was not the son of Anyakrawati (M ataram king ll) as people known so far, but the son of Panembahan Senapati with second queen, Retna Dumilah, or known as Anyakrawati brother of different mother. Dealing with the winning of Retna Dumilah in competition "overthrowing trone choir", Rangsang was stated by his father as the son who could bequeth kings in Java island.The statement worried Anyakrawati that Rangsang was curioused to disturb his authority in handling governance. Therefore, Anyakrawati ordered to kill him. But, the effort could be failed by Purubaya, his older brother who always protected him as his father's order. Even, in the third murder efforts, Anyakrawati was murdered during his hunting to catch him. Finally, Rangsang who had been called as prince entitled Arya Manggala was honoured as Matarum king Ill entitled Sultan Agung Anyakrakusuma. Dealing with the discussion of BNSA, the structural theory by Wellek and Warran was developed by Teeuw as his instrument. Teeuw stated that creation of work from time to time was developed and it was suspended between convention and innovation. Data collection utas conducted using descriptive-qualitative method with read and record technique. The analysis used analitical technique. The main source of BNSA was supported by secondary data: Babad Tanah Jawi Kartaprdja.


Keywords


Rangsang (sultan Agung); titah baginda; Purubaya; Anyakrawati; His Majesty speech

Full Text:

PDF


DOI: https://doi.org/10.26499/wdprw.v39i1.23

Refbacks

  • There are currently no refbacks.