WANI NGAIAH LUHUR WEKASANE, PESAN MORAL JAWA DALAM NOVEL BERBAHASA JAWA CANDHI KALAKAPURANTA KARYA SUGIARTA SRI WIBAWA: SEBUAH KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA

Yohanes Adhi Satiyoko

Abstract


Novel berbahasa Jawa Candhikala Kapuranta adalah sebuah novel berlatar belakang sejarath, yaitu pada masa pemerintahan Pakubuwono VI sampai dengan Pakubuwono X di Surakarta. Latar cerita diangkat menjadi dasar perumusan masalah, yaitu pengungkapan lingkungan sosial budaya (lebenswelf) masyarakat Jawa serta fenomena sosial yang muncul melalui penggambaran tokoh-tokoh cerita dalam aktivitas kehidupan mereka sehari-hari. Pembahasan rnenggunakan pendekatan dan teori sosiologi verstehen Janet Wolff dengan menguraikan fenomena kemasyarakatan yang terjadi pada masyarakat golongan bangsawan di Surakarta masa pemerintahan Pakubuwono VI sampai dengan Pakubuwono X serta menemukan perlambangan-perlambangan yang muncul dari interaksi sehari-hari antartokoh dalam Candhikala Kapuranta. Perlambangan-perlambangan yang diperoleh tersebut ditafsirkan untuk memahami ideologi pengarang. Latar cerita Candhikala Kapuranta menguraikan gambaran realis masyarakat golongan bangsawan dan interaksinya dengan orang kecil (wong cilik) yang dihadirkan sebagai oposisi kelas dalam latar sosial budaya. Oposisi tersebut adalah sebuah analogi dari laku spiritual manusia (wong cilik) untuk mencapat derajat kesempurnaan yang digambarkan dengan pencapaian derajat kebangsawanan. Laku spiritual tersebut menunjukkan satu pesan moral waningalah luhur wekasane dalam konteks logika orang Jawa, yaitu untuk mencapai sebuah cita-cita diperlukan perjuangan dengan sikap rendah hati, mengalah tidak untuk kalah, dan tidak meremehkan dan mengorbankan orang lain.

Kata kunci: wani ngalah luhur wekasane, bangsawan, wong cilik, laku spiritual

Abstract

Javanese language novel Candhikala Kapuranta is a fiction historical background in the reign of Pakubuwana VI to Pakubuwana X in Surakarta. Story background of the novel was taken as problem formulation to reveal social cultural world (lebenswelt) of Javanese society and social phenomena through characters portrayal in which they interact daily. Discussion of the novel was conducted using sociological approach and verstehen sociological theory of Janet Wolff in finding social phenomena of noble society in Surakarta in the reign of Pakubuwana VI to Pakubuwana X and in interpreting typification as reflected in daily interactian among characters. Furthermore, the typifications were identified and interpreted to comprehend ideology of the author. Illustration of noble society and its interaction with lower class people (wong cilik) was portrayed as oppositional classes in social cultural background. The opposition was an analogy of spiritual exercise of people (wong cilik) to reach perfection degree as symbolized in noble degree achievement. The spiritual exercise shows moral value wani ngalah luhur wekasane in the context of Javanese people way of thinking that in reaching desirability they are required to be low profile, to be defeatist but not to be defeated, and never underestimate or sacrifice others.


Keywords


wani ngalah luhur wekas ane, noblunen, wong cilik, spiritual exercise.

Full Text:

PDF


DOI: https://doi.org/10.26499/wdprw.v40i1.39

Refbacks

  • There are currently no refbacks.